Senin, 21 Juni 2010, Sebagai bentuk kepedulian LDII terhadap lingkungan dan bagian dari dakwah untuk menuju jalan kebaikan, DPD LDII melakukan Pencanangan Gerakan Penghijauan Nasional LDII Go Green 2010 dengan tuan rumah DPD LDII SulSel. Kegiatan yang dilaksanakan di kota Makassar tersebut mengambil tempat di kompleks Sikamaseang Jalan Berua-Mannuruki Kel. Paccerakkang Kec. Biringkanaya Makassar pada 09.00-13.00 WITA.
Kegiatan dengan tema “GERAKAN PENGHIJAUAN UNTUK MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN YG BERKELANJUTAN MELALUI REKLAMASI DAN REVEGETASI BERWAWASAN RELIGI” dicanangkan oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo bersama Ketua MUI Pusat KH Umar Shihab, Ketua DPP LDII Prof Dr H Abdullah Syam, dan dihadiri kurang lebih 2000 warga LDII dan warga setempat. Acara turut di hadiri oleh perwakilan DPD LDII dari 33 provinsi se-Indonesia, dan perwakilan DPD LDII dari 23 kab/kota se-Sulsel.
Ketua LDII Pusat, H Abdullah Syam menyatakan kegiatan ini untuk memperbaiki lingkungan yang mengalami penurunan akibat pemanasan global melalui reklamasi dan revegetasi bernuansa religi. Ketua Umum MUI Pusat, Umar Shihab menyampaikan Islam mengajarkan kedamaian dan kesejahteraan serta melarang adanya pengrusakan lingkungan. Sehingga penghijauan adalah mutlak bagi semua umat Islam.
"Hijau berarti sukses, hijau berarti senang, dan hijau adalah keselamatan," tegasnya. Sementara Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengemukakan pilihan strategi Go Green oleh LDII adalah tepat sebagai lembaga dakwah, cukup mudah menyampaikan pesan-pesan melalui dakwahnya. Upaya untuk mewariskan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan manusia menjadi bagian dari ibadah yang disyariatkan Islam. Gubernur menyambut baik program LDII karena menjadi bagian dari akselerasi program dunia MDGs dan program Go Green Sulsel.
"Fenomena global warming memerlukan rekayasa berfikir manusia untuk mengantisipasi dampaknya sehingga jawabannya adalah menanam pohon. Dan LDII menjawab itu," ujarnya. Selain itu, gubernur menjanjikan akan memberikan 23 unit lahan kebun rakyat (untuk setiap kabupaten/kota di provinsi SulSel) yang dibina LDII serta 50 ribu bibit untuk ujicoba.
Pada kesempatan itu, dilaksanakan pula pengukuhan satuan tugas LDII Go Green baik tingkat Nasional maupun provinsi se-Indonesia. Acara pencanangan ini pula disertai dengan pengangkatan duta LDII peduli lingkungan (Ida Royani dan Edwin Sudirosa) serta pemberian penghargaan kepada warga LDII berprestasi dan berdedikasi terhadap lingkungan. Diantaranya, H Budirman Natakusuma, MM sebagai penggagas Biopori dan Car Free DKI Jakarta, Hj. Erni Suhaina Fadzri Nandang sebagai penerima Upakarti 2008 dan Rekor Muri untuk pemanfaatan bahan non B-3 untuk pakaian dan dekorasi pesta pernikahan. Penghargaan juga diberikan kepada Ali Mabruri yang menerima Kalpataru dari pemerintah, serta Agus Widodo.
Warga LDII yang menerima penghargaan atas dedikasinya terhadap lingkungan antara lain :
Ir. H. Budirama Natakusuma, MM. (penggagas Biopori dan Car Free Day DKI Jakarta), Hj. Erni Suhaina Fadzri Nandang (penerima Upakarti 2008 & REKOR MURI untuk pemanfaatan limbah non B3 untuk pakaian & dekorasi pesta pernikahan). Penerima Kalpataru (Supri/Bondowoso).
Selain pencanangan LDII Go Green 2010, LDII juga melaksanakan acara Seminar Peduli Lingkungan Hidup di tempat terpisah. Seminar yang bertempat di Gedung Graha Pena Jl. Urip Sumoharjo KM.4 Makassar tersebut, dilaksanakan pada 13-00 s/d 17.00 WITA.
Pembicara pada seminar ini antara lain : Prof. DR. Laode Asrul (KAHMI), Prof. Dr. Ir. KH. Abdullah Syam, MS.c. (LDII) dan Ir. Hj. Rukmini, M.P. (Universitas Hasanuddin).
Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama DPP LDII, Yayasan CAI, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, KAHMI, Pemprov Sulsel, Pemkot Makassar.
dan turut disponsori oleh Vitazone, PRSSNI, Makassar TV, Fajar TV dan Parahyangan digital printing.
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Juni 2010
Senin, 05 Oktober 2009
Dakwah, Ibadah, Islam, Romadhon
Puasa Syawal
Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun . (HR. Muslim).
Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda:
"Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh." ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.)
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. " (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: "Salah satu sanad yang befiau miliki adalah shahih.")
Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (tebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.
Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :
1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
2. Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
Selengkapnya...
"Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun . (HR. Muslim).
Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda:
"Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh." ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.)
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. " (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: "Salah satu sanad yang befiau miliki adalah shahih.")
Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (tebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.
Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :
1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
2. Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)